Sabtu, 03 Desember 2011

Contoh Makalah Linguistik Kontrastif


KEKONTRASTIFAN SINTAKSIS FRASA
BAHASA ARAB DAN INDONESIA
Oleh: Tasliati (NIM 07201241004)

A.    Frasa dalam Bahasa Indonesia

Menurut Cook , Elson dan Pickeet dalam Mawadi (2008:2) frasa adalah satuan linguistik yang secara potensial yang merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa.
Sementara Ramlan menjelaskan bahwa frasa adalah satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi.
Frasa lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Istilah frasa digunakan sebagai satuan sintaksis yang satu tingkat berada di bawah satuan klausa atau satu tingkat berada di atas satuan kata. Dari definisi di atas yang namanya frasa itu pasti terdiri lebih dari sebuah kata (Chaer, 2003:222).
Samsuri mengatakan bahwa frasa itu adalah gatra. Dia membagi frasa menjadi lima golongan antara lain: Frasa Verbal, frasa nominal, frasa sifat, frasa bilangan dan frasa depan.
Menurut Ramlan (1987:158) berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frasa dapat digolongkan menjadi empat golongan yaitu:
1.      Frasa verbal
Frasa verbal atau atau golongan verbal adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal ( Ramlan, 1987:168 ).
Contoh:
1. Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan
    Dua orang mahasiswa – membaca buku baru di perpustakaan
2. akan pergi

2. Frasa Nominal
Frasa nominal adalah frasa yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal ( Ramlan, 1987:158) persamaan itu dapat dilihat dengan jelas melalui beberapa contoh berikut.
Adik membeli baju baru
Menurut Ramlan (1987: 159) Secara kategorial frasa nominal terdiri atas:
a.  Frasa nominal diikuti frasa nominal. Maksudnya terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai unsur pusat, diikuti oleh kata atau frasa nomina sebagai atribut. Jadi semua unsurnya berupa kata atau frasa nominal (Ramlan, 1986: 159).
Contoh:
- Gedung sekolah
- Perusahaan kain
- Perkarangan rumah
b. Frasa Nominal diikuti frasa verbal, maksudnya terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai unsur pusat diikuti kata atau frasa verbal sebagai atribut.
Contoh:
- Rumah baru
c.  Frasa nominal diikuti frasa bilangan, maksudnya frasa itu terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai unsur pusat, diikuti kata atau frasa bilangan sebagai atribut.
Contoh:
- Nasi sepuluh bungkus
- Sawah lima petak
d.  Frasa nominal diikuti oleh frasa adverbia, maksudnya frasa ini terdiri dari kata atau frasa nominal sebagai unsur pusat, diikuti kata atau frasa Adverbia sebagai atribut. Contoh:
- Koran kemarin pagi
3. Frasa Numerella
Frasa numerella atau frasa bilangan adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan (Ramlan, 1987:176).
Contoh:
1. Dua buah rumah
2. Tiga ekor ayam
4. Frasa Adverbia
Frasa adverbial atau keterangan adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan (Ramlan, 1987:177). Dalam bahasa Indonesia terdapat sejumlah kata keterangan antara lain kemarin, tadi, nanti, besok, lusa, sekarang dan lain-lain.
Contoh :
Tadi malam Ahmad menghadiri pertemuan keluarga
5. Frasa Preposisi
Frasa preposisi atau frasa depan adalah frasa yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frasa aksisnya (Ramlan, 1987:178 ).
Contoh :
1. Ayah tidak ada di rumah
2. Ibu sedang pergi ke pasar

B.     Frasa dalam Bahasa Arab

Jenis frasa bahasa Arab berdasarkan unsur cara pembentukannya terdiri dari 25 jenis frasa. Cara pembentukannya adalah sebagai berikut.
1.      Frasa Verbal
Cara pembentukan frasa verbal dapat dibentuk melalui beberapa frasa diantaranya adalah sebagai berikut:
a.      Frasa Manfy
Frasa manfy adalah frasa yang terdiri atas penegasi yang diikuti oleh verbal dan nominal. Beberapa penegasi yang ditemukan atau yang sering digunakan adalahﻠﻴﺲ ﻤﺎﻠم ﻠن . Penegasi, ﻠن, ﻠم dan ﻤﺎ ditemukan hanya diikuti verbal. Adapun penegasi lainnya dapat diikuti oleh nominal ataupun verbal. Berikut ini dikemukakan contoh masing-masing
·         ﺃﻨﺎﻻﺃﻋﺮﻒﺍﻠﺠﻮﺍﺐ/ anā lā a‘rifu al-jawāba/ “aku tidak mengetahui jawabannya”
·         ﻻﺃﺤﺪﻔﻲﺍﻠﻔﺼﻞ/lā ahadun fī al-fasli / tidak ada seorangpun di kelas”
·       ﻠﻴﺴﺖﺘﺮﻴﺪﻫﻧﺍﺍﻠﻂﻌﺎﻡ/laitsat  turīdu hazā al-ta‘āmu / “apakah anda tidak menginginkan makanan ini”
·         ﻤﺎﺠﺎﺀﺍﻠﺴﺘﺎﺫ/mā jā a al-ustāzu / “guru itu tidak datang
·         ﺍﻠﺳﻴﺪﻨﻭﺮﺍﻠﻤﺮﺘﻀﻰﻟﻢﻴﺤﻀﺮ/al-sayyidu nūru al-murtada lam yahdur/ “tuan nurul murtada belum hadir
·         ﻟﻦﻴﺮﺠﻊﺍﻷﻴﺎﻢﺍﻠﺘﻰﻤﻀﺖ/ lan yarji ‘a al-ayyāmu allatī madat/ “ hari-hari yang telah berlalu tidak akan kembali

b. Frasa Syarthy
Frasa syarty adalah frasa yang berunsurkan penanda syarat sebagai atribut diikuti verbal sebagai unsur pusat. Diantara penanda syarthy itu adalah ﻤﻦ,ﺍﺫﺍ,ﻤﻨﻬﺎ,ﻛﻟﻤﺎ,ﺍﻦ,ﻠﻤﺎ,ﻠﻮ,ﻋﻨﺪﻤﺎ. Dibawah ini dikemukakan contoh frasa syarthy yang terbentuk dari setiap penanda syarat tersebut.
Contoh:
·       ﻛﻟﻤﺎ ﺃﺮﺍﺪﻮﺍ ﺃﻦ ﻴﺤﺮﺠﻮﺍ ﻤﻨﻬﺎ ﺃﻋﻴﺪﻮﺍ ﻔﻴﻬﺎ
·       ﻟﻤﺎ ﺯﺍﻏﻭﺍ ﺃﺯﺍﻍ ﺍﻟﻟﻪ ﻘﻟﻭﺒﻬﻢ
·       ﻤﻦ ﺠﺎﺀ ﺒﺎﻟﺤﺴﻨﺔ ﻔﻟﻪ ﻋﺷﺮ ﺃﻤﺜﺎ ﻟﻬﺎ
Contoh pertama pada klausa di atas yang menjadi frasanya adalah ﻛﻟﻤﺎ ﺃﺮﺍﺪﻮﺍ/ terdiri atas dua unsur yaitu / ﻛﻟﻤﺎ yang berfungsi sebagai syarat dan sebagai atribut, kemudian diikuti oleh kata verbal yaitu ﺃﺮﺍﺪﻮﺍ/ yang berfungsi sebagai unsur pusat. Jadi frasa syarthy itu adalah frasa yang berunsurkan penanda syarat sebagai atribut dan diikuti oleh verbal sebagai unsur pusat.
Contoh kedua pada klausa di atas yang menjadi frasanya adala / ﻟﻤﺎ ﺯﺍﻏﻭﺍ terdiri dari dua unsur yaitu ﻟﻤﺎ / yang berfungsi sebagai syarat dan sebagai atribut, kemudian diikuti oleh kata verbal yaitu /ﺯﺍﻏﻭﺍ/ yang berfungsi sebagai unsur pusat. Jadi frasa syarthy itu adalah frasa yang berunsurkan penanda syarat sebagai atribut dan diikuti oleh verbal sebagai unsur pusat.
Contoh ketiga pada klausa di atas yang menjadi frasanya adalah /ﻤﻦ ﺠﺎﺀ terdiri dari dua unsur yaitu ﻤﻦ / yang berfungsi sebagai syarat dan sebagai atribut, kemudian diikuti oleh kata verbal yaitu ﺠﺎﺀ / yang berfungsi sebagai unsur pusat. Jadi frasa syarthy itu adalah frasa yang berunsurkan penanda syarat sebagai atribut dan diikuti oleh verbal sebagai unsur pusat.
Jadi frasa syarthy itu adalah frasa yang berunsurkan penanda syarat sebagai atribut dan diikuti oleh verbal sebagai unsur pusat.

c. Frasa Tanfis
Frasa tanfis adalah frasa yang tersusun dari verbal sebagai unsur pusat dan didahului oleh penanda waktu tanfis yaitu ﻜﻲ,,ﻗﺪ,ﺤﺘﻰ,ﺴﻮﻒ,. Dibawah ini dikemukakan contoh frasa tanfis yang terbentuk dari setiap penanda waktu tanfis tersebut.
Contoh:
·       ﺴﺄ ﺯﻮﺭﻚ ﻫﺬﺍ ﺍﻠﻴﻭﻢ
/sa’azūruka hazā al-yauma/ saya akan mengunjungimu hari ini
·       ﺴﻮﻒ ﻴﺤﻀﺭ ﺍﻠﻭﻔﺪ
/saufa yahduru al-wafdu/ “utusan itu akan datang”
Contoh pertama pada klausa di atas yang menjadi frasanya adalah ﺴﺄ ﺯﻮﺭﻚ /sa’azūruka / terdiri dari dua unsur yaitu س /sa/ yang berfungsi sebagai penanda tanfis dan sebagai atribut, kemudian diikuti oleh kata verbal yaitu ﺯﻮﺭﻚ /zūruka / yang berfungsi sebagai unsur pusat. Jadi frasa tanfis itu adalah frasa yang berunsurkan penanda tanfis sebagai atribut dan diikuti oleh verbal sebagai unsur pusat.
Contoh kedua pada klausa di atas yang menjadi frasanya adalah ﺴﻮﻒ ﻴﺤﻀﺭ /saufa yahduru/ terdiri dari dua unsur yaitu ﺴﻮﻒ /saufa/ yang berfungsi sebagai penanda tanfis dan sebagai atribut, kemudian diikuti oleh kata verbal yaitu ﻴﺤﻀﺭ /yahduru/ yang berfungsi sebagai unsur pusat. Jadi frasa tanfis itu adalah frasa yang berunsurkan penanda tanfis sebagai atribut dan diikuti oleh verbal sebagai unsur pusat. Jadi frasa tanfis itu adalah frasa yang berunsurkan penanda tanfis sebagai atribut dan diikuti oleh verbal sebagai unsur pusat.


d. Frasa Tawkitat
Frasa tawqitat adalah frasa yang berunsurkan verba bantu ﻜﻧﺎ dan yang sejenisnya sebagai atribut diikuti oleh verba maupun non verba sebagai unsur pusat, secara singkat dapat ditulis V bantu + V/ non- V. Penanda tawqitat itu antara lain berupa    ﻜﻧﺎ,ﺼﺎﺭ ,ﻈﻞ ,ﺃﻤﺳﻰ , ﺯﺍﻝ,ﻤﺎ . Penanda tawqitat tersebut merupakan verba bantu yang mengandung makna waktu.
ﺍﻂﻔﻟﺔ ﻜﻨﺖ ﺘﻠﻌﺐ ﻔﻲ ﺴﺎﺤﺔ ﺍﻠﺒﻴﺖ/al-tiflatu kānat tal‘abu fi sāhati al-baiti/
anak itu bermain di halaman rumah”
ﺼﺎﺮ ﺃﺨﻲ ﻴﻌﻤﻝ ﻔﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻠﺒﻨﻙ/sāra akhi ya‘malu fī hazā al-banka/
 “saudaraku bekerja di bank ini”
Contoh pertama pada klausa di atas yang menjadi frasanya adalah ﻜﻨﺖ ﺘﻠﻌﺐ / kānat tal‘abu / terdiri dari dua unsur yaitu ﻜﻨﺖ / kānat/ sebagai verba bantu dan berfungsi sebagai atribut, kemudian diikuti oleh kata verbal yaitu / ﺘﻠﻌﺐ tal‘abu / yang berfungsi sebagai unsur pusat. Jadi frasa tawqitat itu adalah frasa yang dibentuk melalui verba bantu sebagai atribut dan diikuti oleh verbal sebagai unsur pusat.
Contoh kedua pada klausa di atas yang menjadi frasanya adalah ﺼﺎﺮ ﺃﺨﻲ ﻴﻌﻤﻝ / sāra akhi ya‘malu/ terdiri dari dua unsur yaitu / ﺼﺎﺮ / sāra /sebagai verba bantu dan berfungsi sebagai atribut, kemudian diikuti oleh kata verbal yaitu ﻴﻌﻤﻝ/ ya‘malu /yang berfungsi sebagai unsur pusat. Jadi frasa tawqitat itu adalah frasa yang dibentuk melalui verba bantu sebagai atribut dan diikuti oleh verbal sebagai unsur pusat.

e. Frasa Muqarabat.
Frasa muqarabat adalah frasa yang berunsurkan verba sebagai unsur pusat dan didahului oleh verba Bantu muqarabat yang bermakna “hampir”

Contoh:
 ﻜﺎﺪ ﻴﻤﺿﻲ ﺍﻠﻭﻗﺖ/ kāda yamdu al-wakta/
 “waktu hampir habis”
ﺃﻭﺸﻜﺖ ﺍﻠﺷﻤﺱ ﺗﻐﺮﺏ /awsyakat al-syamsa tugrabu/
“matahari itu hampir terbenam”
Pada contoh pertama klausa di atas yang menjadi frasanya adalah ﻜﺎﺪ ﻴﻤﺿﻲ /kāda yamdu / terdiri dari dua unsur yaitu ﻜﺎﺪ / kāda /sebagai verba bantu serta sebagai atribut dan diikuti oleh verba yaitu ﻴﻤﺿﻲ / yamdu / berfungsi sebagai unsur pusat. Jadi frasa Muqarabat dibentuk melalui verbal bantu sebagai atribut diikuti oleh verba sebagai unsur pusat.
Contoh pertama klausa di atas yang menjadi frasanya adalahﺃﻭﺸﻜﺖ/ /awsyakat / terdiri dari dua unsur yaitu ﺃﻭ /aw/sebagai verba bantu serta sebagai atribut dan diikuti oleh verba yaitu ﺃﺸﻜﺖ/syakat/ berfungsi sebagai unsur pusat.
Jadi frasa Muqarabat dibentuk melalui verbal bantu sebagai atribut diikuti oleh verba sebagai unsur pusat.

f. Frasa Syuru‘
Frasa syuru‘ adalah frasa yang berunsurkan verbal sebagai unsur pusat dan didahului oleh verba bantu syuru’ sebagai atribut.
Contoh :
ﺨﺫﺍ ﻴﻨﺗﻗﻝ ﻤﻦ ﻤﺪﻴﻧﺔ ﺇﻠﻰ ﻤﺪﻴﻧﺔ /akhaza yantaqilu min madīnati ilā madīnati
“ia berpindah dari satu kota ke kota yang lain"
 ﺒﺪﺃﺖ ﺘﺘﺤﺭﻚ ﺍﻠﺤﺎﻔﻼﺖ /bada at tataharraka al-hāfilātu/
 “mobil-mobil itu mulai bergerak”
Contoh pertama klausa di atas yang menjadi frasanya adalah ﺃﺨﺫﺍ ﻴﻨﺗﻗﻝ  /akhaza yantaqilu/ terdiri dari dua unsur yaitu ﺃﺨﺫﺍ / akhaza /sebagai verba Bantu serta sebagai atribut dan diikuti oleh verba yaitu ﻴﻨﺗﻗﻝ / yantaqilu / berfungsi sebagai unsur pusat. Jadi frasa syuru‘ adalah frasa yang dibentuk melalui verbal bantu sebagai atribut diikuti oleh verba sebagai unsur pusat.
Contoh pertama klausa di atas yang menjadi frasanya adalah ﺒﺪﺃﺖ ﺘﺘﺤﺭﻚ /bada at tataharraka / terdiri dari dua unsur yaitu ﺒﺪﺃﺖ / bada at /sebagai verba bantu serta sebagai atribut dan diikuti oleh verba yaitu ﺘﺘﺤﺭﻚ / tataharraka /berfungsi sebagai unsur pusat. Jadi frasa syuru‘ adalah frasa yang dibentuk melalui verbal bantu sebagai atribut diikuti oleh verba sebagai unsur pusat.

g. Frasa Raja‘
Frasa raja‘ adalah frasa yang berunsurkan verba ﻨﺪﺮﻚ seagai unsur pusat dan didahului verba bantu raja‘ ﻋﺴﻰ sebagai unsur pusat.

h. Frasa Mashdary
Frasa mashdary adalah frasa yang terdiri atas penanda masdhar ﺃﻦ/an/ sebagai atribut diikuti oleh verbal sebagai unsur pusat.

2. Frasa Nominal
Cara pembentukkan frasa nominal dapat dibentuk melalui beberapa frasa diantaranya adalah sebagai berikut:
a.      Frasa Na‘ty
Frasa na‘ty adalah frasa frasa yang dibentuk oleh nominal sebagai unsur pusat diikuti oleh adjektifa sebagai na‘at atau atribut.
Contoh :
ﻫﺬﺍ ﺃﻠﻮﻦ ﺯﻴﺘﻴﺔ /hazā al-wānun zaitiyyatun/ “ini warna-warna cat minyak”
b.  Frasa Athfy
Frasa Athfy adalah frasa yang berunsurkan nominal diikuti oleh nominal atau verbal diikuti oleh verbal atau adjektifa diikuti oleh adjektifa. Unsur-unsur pada frasa athfy dapat dihubungkan dengan huruf athaf atau disebut dengan kata penghubung Contoh :
ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻴﺠﺏ ﺍﻠﻠﻐﺔ ﻮ ﺍﻠﺤﺴﺎﺏ /usmānu yuhibbu al-lugata wa al-hisāba/
“usman menyukai pelajaran bahasa dan berhitung”
c.  Frasa badaly
Frasa badaly adalah frasa yang terdiri atas nominal satu diikuti oleh nominal nominal kedua.



Contoh :
ﻮﺍﻠﺮﻴﺎﺾ ﻋﺎﺻﻤﺔ ﺍﻠﻤﻠﻛﺔ ﺍﻠﺴﻌﻮﺪﻴﺔ ﻤﺪﻴﻨﺔ ﻋﺼﺮﻴﺔ /wa al-riyādu ‘āsimatu al-mamlakati al-su‘ūdiyyati madīnatun ‘asriyyatun/
“Riyadh ibu kota kerajaan Saudi merupakan kota modern”

d.  Frasa Syibhul jumlah
 Frasa syibhul jumlah adalah frasa preposisional yang berunsurkan preposisi yang dalam bahasa Arabnya disebut dengan harf jar sebagai penanda diikuti nominal sebagai petanda ( Asrori, 2004:54).
Contoh:
/ﺃﺴﺘﺮﻱ ﺍﻠﻘﻠﻢ ﻤﻦ ﺍﻠﻤﻘﺼﻑ
/astarī al-qalama min al-maqsafi/ “saya membeli pulpen dari kantin”
e.  Frasa Idhafy
Frasa Idhafy adalah frasa yang berunsurkan nominal dan diikuti oleh nominal. Dalam frasa ini nominal pertama merupakan unsur pusat sedangkan nominal kedua sebagai atribut.
Contoh :
ﻤﺎ ﻋﻨﻭﺍﻨﻙ ؟ /mā ‘unwānuka?/ “ dimana alamatmu”
f.  Frasa adady
Frasa adady disebut dengan frasa bilangan merupakan frasa yang berunsurkan bilangan atau adady sebagai unsur pusat diikuti oleh nominal sebagai atribut. Unsur-unsur dalam frasa adady mempunyai hubungan yang padu dan mesra. Unsur-unsur dalam frasa tersebut tidak dapat dipisahkan oleh unsur yang lain dan tidak bisa diubah urutannya. Apabila urutan bilangan dan nominal itu diubah ataupun disisipi oleh unsur lain maka tidak lagi termasuk kategori frasa adady.
أﺤﻀﺮ ﺖﺛﻼﺚ ﺼﻭﺮ /ahdartu salāsa suwarin/ “saya membawa tiga gambar”

g. Frasa nida‘iy
Frasa nida‘iy adalah frasa yang terdiri atas kata seru atau disebut dengan nida‘sebagai atribut dan diikuti oleh nominal sebagai unsur pusat. Kedua unsur tersebut dalam bahasa Arab disebut dengan nida‘ dan monada ‘ penanda seruan tersebut adalah ﻴﺎ / ya/ atau أﻴﻬﺎ / ayyuha/


Contoh :
ﻤﺎ ﻫﺫﺍ ﻴﺎ ﺃﺴﺗﺎﺫ ؟/mā hazā yā ustāza?/
“apa ini wahai guru?”
h. Frasa Isyary
Frasa isyary adalah frasa yang berunsurkan nominal sebagai unsur pusat didahului oleh penunjuk yang dalam bahasa Arab disebut dengan ism isyarah sebagai atribut.
Contoh :
ﺫﻟﻚ ﺍﻠﺤﺫﺍﺀ ﻠﻲ/zālika al-hizāu lī / sepatu itu milik saya”
i.  Frasa tawkidy
Frasa tawkidy adalah frasa yang terbentuk dari nominal sebagai unsur pusat diikuti atribut berupa tawkid atau penegas. Penanda tawkid dalam bahasa Arab mencakup ﻘﻞ/kullun/ ﺫﻔﺱ/nafsun/ ﻋﻴﻦ/ ainun/. Selain itu bisa berupa kata ganti. ﻫﺫﻩﺃﻤﻲﺍﺍﻨﺎ/hazihi ummi anā/ “ ini ibu saya”
j. Frasa istisna‘i
Frasa istina‘i adalah frasa yang terbentuk dari pengecualian sebgai atribut diikuti oleh nominal sebagai unsur pusat. Pengecualian bahasa Arab antara lain ﺍﻠﻰ / illa/ ﻏﻴﺮ/gairu/ ﺴﻮﻯ / sawa/
/lā rabbu sawā Allahi/
ﻻ ﺮﺐ ﺴﻮﻯ ﺍﷲ    “tiada tuhan selain Allah”
k. Frasa Bayany
Frasa bayany adalah frasa yang berunsurkan dua nomina yang dipisahkan oleh huruf ﻤﻦ / min/ dimana nominal pertama berfungsi sebagai atribut diikuti oleh nominal kedua sebagai unsur pusat.
Contoh:
/ﺸﺭﺒﺕ ﻛﻮﺒﺎ ﻤﻦ ﺍﻠﻌﺼﻴﺭ
/syarabtu kūban min al-‘asīri “ saya minum segelas jus”

l. Frasa Naskhy
Frasa naskhy adalah frasa yang berunsurkan nominal sebagai unsur pusat didahului oleh penanda naskhy, yaitu mencakup ﻠﻴﺕ / laitu/ ﻟﻌﻝ / la‘alla/ /ﻛﺄﻦka’anna/ ﻷﻦ / lianna/ ﻠﻛﻦ/ lakinna/ ﺃﻦ / anna/ ﺍﻦ/ in/
Contoh:
ﺍﻦ ﺍﷲ ﺍﻠﺴﻤﻴﻊ ﻋﻟﻴﻢ/innallāha samī‘un ‘alīmun/
“sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”

m. Frasa Ikhtishasly
Frasa ikhtishasly adalah frasa yang berunsurkan dua nomina yaitu nominal satu sebagai unsur pusat dan nominal dua sebagai pengkhusus. Sebgai pengkhusus, nominal dua ber‘irab mansub.
ﻨﺤﻥ ﺍﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺃﻤﺔ ﻮﺤﺪﺓ/nahnu al-muslimīna ummatun wahidatun/
“kita orang muslim adalah umat yang satu”

C.    Kekontrastifan Frasa Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab

Istilah frasa apapun terjemahannya dalam bahasa Arab tidak populer di kalangan pengkaji bahasa Arab di Indonesia ataupun di dunia Arab sendiri. Karena buku-buku nahwu atau sintaksis Arab pada umumnya tidak ada yang mengemukakan defenisi tetang frasa. Selain itu tidak ada bab atau sub bab yang menggunakan istilah frasa sebagai kepala pembahasan. Meskipun demikian bukan berarti dalam bahasa Arab tidak ada konsep tentang frasa.
Dalam sejarah studi linguistik istilah frasa banyak digunakan dengan pengertian yang berbeda-beda. Istilah frasa digunakan sebagai satuan sintaksis yang satu tingkat berada di bawah satuan klausa, atau satu tingkat berada di atas satuan kata. Frasa lazim didefenisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Di sini kita dapat menyimpulkan bahwa yang namanya frasa itu pasti terdiri lebih dari sebuah kata (Chaer, 1994:222).
Berikut ini dikemukakan tentang pengertian frasa dari berbagai tokoh diantaranya sebagai berikut:
1.      Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak melebihi batas fungsi (Ramlan, 1981).
2.      Frasa adalah gabungan dua kta atau lebih yang sifatnya tidak pedikatif (Kridalaksana, 1993).
3.      Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi klausa (Ibrahim, dalam Mawadi, 2008:32)

Menurut Hassanain (dalam Mawadi 2008:32) istilah frasa dalam bahasa Arab disebut dengan  ١ﻠﺗﺮﻛﺐ/al-tarkību/. Menurutnya, Frasa dalam nahwu bahasa Arab adalah kalimat yang tidak disandarkan pada kata lain yang terdiri atas dua kata dan dua kata tersebut mempunyai hubungan yang tidak disandarkan, atau bentukan bahasa yang tersusun dari dua kalimat yang saling terikat oleh bentuk, yang menjadikan keduanya satu kesatuan sehingga memungkinkan untuk menggantikan satu kata saja.
Berdasarkan tipe strukturnya, Ramlan(1981) dan Tarigan(1986) mengelompokkan frasa menjadi dua yaitu:
1.      Frasa Endosentis ﻏﻴﺮﻤﺨﺿﺔ/ gaira mahdatun/
2.      Frasa Eksosentris ﻤﺨﺿﺔ/mahdatun/
Frasa Endosentris dalam bahasa Arab disebut dengan  ﻏﻴﺮﻤﺨﺿﺔ/gaira mahdatun/ yaitu frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan salah satu atau semua unsurnya. Frasa endosentris sebagai frasa yang mempunyai hulu, pusat, atau pokok. Artinya salah satu unsur frasa tersebut merupakan hulu, pusat, atau pokok dan sebagai unsur pusat ia mempunyai persamaan distribusi dengan frasa (Mawadi, 2008:37).
Frasa yang kedua yaitu frasa eksosentris yang dalam bahasa Arab disebut dengan ﻤﺨﺿﺔ /mahdatun/ yaitu frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan salah satu unsurnya (mawadi, 2008: 38).
Contoh
١ﻷﺳﺗﺎﺬﺬﻴﻗﺮﺃ ﻔﻲ١ﻠﻤﻜﺗﺐ
/al-ustāzu yaqra’u fī al-maktabi/ “ pak guru membaca di kantor”
١ﻷﺳﺗﺎﺬﺬﻴﻗﺮﺃﻔﻲ--
 /al-ustāzu yaqra’u fī/ “pak guru membaca di”
pada contoh di atas yang menjadi frasanya adalah ﻔﻲ١ﻠﻤﻜﺗﺐ/ fī almaktabi
/ karena tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsur-unsurnya.
Berikut ini adalah bentuk frasa verbal dan frasa nominal dalam bahasa Arab diantaranya adalah sebagai berikut:

1.      Frasa verbal
Frasa verbal adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata kerja (Ramlan, 1986:158). Frasa verbal mempunyai paduan pokok kata kerja, yang mempunyai bentuk bermacam-macam, seperti datang, duduk, hilang, lari, maju, mundur dan lain sebagainya. Frasa ini boleh dikatakan paling sederhana. Kategori berikutnya yaitu frasa verbal yang berawalan ber- seperti berangkat, berlari, bertamasya dan lain sebagainya. Selanjutnya kategori ketiga yaitu memakai awalan me- seperti menjerit, memanjat, meninggal dan lain-lain ( Samsuri, 1994:242).
Dalam bahasa Arab kata kerja disebut dengan fi‘l, menurut Ghulayaini (1991:63) fi‘l terbagi tiga bagian diantaranya fi‘l mudhari‘, fi‘l madi, fi‘l amar.
b)      Fi‘l Mudhari‘ adalah kata yang menunjukkan arti dalam dirinya, yang dikaitkan dengan waktu yang mengandung arti sekarang, atau yang akan datang ( Ghulayaini: 1991:64).
c)      Fi‘l madi adalah kata yang menunjukkan arti dengan sendirinya, dikaitkan dengan waktu yang telah lampau ( Ghulayaini, 1991:63).
d)     Fi‘l Amar adalah kata yang menunjukkan tuntutan terjadinya perbuatan dari fi‘l yang mukhattab( Ghulayaini, 1991: 64).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa frasa verbal itu berbentuk kata kerja dalam bahasa Arab disebut dengan fi‘l.

2.      Frasa non verbal
Frasa non verbal terdiri atas beberapa golongan diantaranya sebagai berikut:
a)      Frasa Nominal
Frasa nominal adalah frasa yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal (Ramlan, 1986: 158).  Menurut Al-khuli (1982:84) Frasa nominal adalah kalimat yang dimulai dengan ism dan berbeda dengan jumlah fi‘l-nya.
Frasa nominal disebut juga dengan frasa benda, untuk menganalisis frasa nominal, sebuah kategori cabang yang termasuk ke dalam frasa, berhubungan dengan kata ganti nama atau persona. Pada dasarnya ada tiga macam persona, baik yang bersifat tunggal maupun yang menunjukkan jamak (Samsuri, 1994: 238-239).
Persona pertama tunggal terdapat pada kata aku dan saya, kemudian kata ganti orang kedua tunggal terdapat pada engkau, anda, kamu. Kata ganti nama ketiga secara jelas ialah Ia dan dia untuk tunggal dan mereka untuk jamak. Untuk menunjukkan jamak juga sering dipakai kata para pada bagian depan (Samsuri, 1994: 239).
Kategori kedua yang terdapat pada frasa nominal ialah berhubungan dengan nama-nama, baik nama-nama binatang seperti kuda, anjing, singa, burung dan lain-lain. Nama-nama orang seperti Ahmad, Siti, Ali, Minah dan lain sebagainya. Selain nama orang dan nama binatang yang terdapat pada frasa benda juga terdapat nama-nama lain seperti nama kota, kantor, sekolah, kapal, dan lain-lain sebagainya (Samsuri, 1994:239 ).
Dalam bahasa Arab nominal disebut dengan ism, jadi bentuk frasa nominal dalam bahasa Arab itu berupa benda ataupun ism.

b)                             Frasa sifat
Frasa sifat atau adjektiva menurut Nurhadi (1995:316) adalah frasa yang mempunyai distrubusi yang sama dengan kata sifat. Menurut Al-khuli (1982:5) Frasa sifat adalah frasa yang berperan sebagai sifat dalam satu kalimat tertentu dan frasa sifat tersebut berbeda dari kalimat sifat dimana frasa sifat itu tidak terdapat kata kerja sedangkan kalimat sifat itu membutuhkan kata kerja.
Frasa sifat ini sangat terbatas bentuknya, yaitu suatu paduan pokok yang berbentuk kata sifat dengan atau tanpa suatu paduan keterangan, seperti amat, sekali ( Samsuri, 1995:244).
Menurut Arifin dan Junaiyah (2008:22) frasa adjektiva adalah frasa yang terdiri atas gabungan beberapa kata atau yang terdiri atas induk berkategori adjektiva dan modifikator berkategori apapun, asalkan seluruhnya berperilaku sebagai adjektiva.
Contoh:
a. Amat cantik
b. Sungguh rajin
c. Agak nakal juga

c)      Frasa Adverbia
Frasa adverbia adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan (Ramlan,1986: 177). Menurut Al-khuli (1982:7) Frasa keterangan adalah frasa yang berfungsi sebagai keterangan. Bentuk frasa adverbia atau keterangan adalah berupa keterangan yang dalam bahasa Arab disebut dengan zharaf. Dalam bahasa Arab zharaf terbagi dua yaitu zharaf zaman dan zharaf makan.

d)     Frasa Numerella
Menurut Arifin dan Junaiyah (2008:24) frasa numerella adalah frasa yang terdiri atas numeralla sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan nomina penggolong bilangan, dan nomina ukuran. Al-ghulayaini menyebutkan frasa numerella dalam bahasa Arab adalah semua bilangan yang terdiri dari dua kata yang mana diantara kedua kata tersebut ada kata penghubung tetapi tidak disebutkan.
Frasa numerella adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan.
Contoh:
- Tiga ekor ayam
- Tiga puluh kilogram beras
Kata tiga, tiga puluh dalam frasa-frasa di atas termasuk golongan kata bilangan, sedangkan kata-kata ekor dan kilogram dalam frasa-frasa di atas termasuk golongan kata pelengkap. Jadi frasa bilangan tersebut terdiri dari unsur kata bilangan.
Unsur-unsur dalam frasa adady atau numerella mempunyai hubungan yang padu. Artinya unsur-unsur dalam frasa tersebut tidak bisa dipisahkan leh unsur yang lain dan tidak bisa diubah urutannya. Apabila urutan bilangan dan nominal itu diubah ataupun disisipi oleh unsur yang lain maka tidak lagi termasuk frasa adady ( Mawadi, 2008: 57).
Frasa numerella atau bilangan mempunyai bentuk bilangan yang dalam bahasa Arab disebut dengan ‘adad.

e)      Frasa Preposisi
Frasa preposisi adalah frasa yang terdiri atas preposisi dan nomina seperti di rumah dan ke pasar (Lavoliwa, 1992:10). Preposisi pada dasarnya terikat pada nomina. Ia berfungsi menyatakan hubungan antara nomina yang didahuluinya dengan predikat kalimat. Secara lain dapat dikatakan bahwa preposisi merupakan predikat peringkat rendah atau predikat sekunder yang disubordinasikan pada predikat utama yang dinyatakan oleh verba (Lavoliwa, 1992:6)
Alisyabana dalam Lavoliwa (1992:10) mendefinisikan frasa preposisi adalah kata-kata yang menghubungkan kata benda dengan kata-kata yang lain serta menentukan sekali sifat perhubungan itu.
Contoh:
- Ayah tidak ada di rumah
- Ibu sedang pergi ke pasar
Kata di dan ke pada contoh di atas merupakan preposisi, sedangkan kata Rumah dan Pasar termasuk nominal. Jadi jika disatukan menjadi frasa preposisi.
Dari uraian di atas disimpulkan bahwa frasa preposisi adalah frasa yang berbentuk preposisi atau dalam bahasa Arab disebut dengan harf jar diikuti oleh nominal.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ada 2 hal yang menyebabkan kesulitan kedua pembelajar bahasa untuk mempelajari frasa, yaitu:
1.      bentuk frasa verbal dan frasa nominal yang bermacam-macam dan tidak bisa disandingkan karena antara kedua bahasa memiliki kaidah khusus dalam mengkaji frasa.
2.      bahasa Arab adalah bahasa Fleksi dan bahasa Indonesia adalah bahasa aglutinatif, sehingga sulit mensejajarkan beberapa pengertian dan contoh-contoh frasa.
3.      cara pembentukan frasa verbal dan frasa nominal dalam bahasa Arab sangat banyak dan rumit sehingga menyulitkan bagi pembelajar Indonesia.








DAFTAR PUSTAKA


Asrori, Imam. 2004. Sintaksis Bahasa Arab Frasa, Klausa, Kalimat. Malang : Misykat.

Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

----------------1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional.1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi kedua. Jakarta: Balai Pustaka.

Ejaan Yang Disempurnakan (Kep. Mendikbud No. 0543 Th. 1987). Jakarta: Bumi Aksara.

Lapoliwa, Hans 1992. Frase Preposisi dalam bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Mawadi. 2008. Analisis Frasa dalam Bahasa Arab. Medan: Skripsi Universitas Sumatra Utara.

Ramlan. 1987. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: Karyono-Yogyakarta.

Samsuri. 1995. Analisis Bahasa. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.

Verhaar, J.W.M. 1996. Asas Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar