Sabtu, 14 Januari 2012

Cepen Siswa SMK N 6 Yogyakarta IV (KKN 2010)



 
Cerpen Keempat
ORGANISASI OKE, AKADEMIS OKE

Muti, ke sini sebentar…!” panggil Pak Dani.
Ini lho Pak, salah satu kandidat ketua rohis.”
“O…iya..iya.., terima kasih ya, Pak! jawab Pak Andi. “Saya ke kantor dulu, assalamu ‘alaikum…”
“Wa ‘alaikumussalam…” jawab Pak Dani dan Mutia.
Mutia, kamu jadi ketua rohis ya!”
Lho.. bukannya kata bapak saya baru jadi kandidat ketua rohis?”
Saya sudah koordinasi dengan Bu Ani dan Bu Iin, dan dari beberapa kandidat rohis yang saya ajukan, mereka sepakat memilih kamu.”
“O…” Mutia masih kaget dengan perkataan Pak Dani.
Nanti kamu bentuk kepengurusannya ya…!
“Iya, Pak… terima kasih. Saya ke kelas dulu, assalamu ‘alaikum,” pamit Mutia seraya meninggalkan lapangan upacara.
“Wa‘alaikumussalam warohmatullahi wabarakatuh…”
Lapangan upacara sudah mulai sepi ditinggalkan murid-murid setelah melaksanakan upacara bendera sekaligus bersalam-salaman menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mereka segera menuju ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran.
* * *
“Ada PR apa kemarin kamis? Dari kemarin mau tanya lupa terus. Kemarin kamis kan aku nggak masuk…” tanya Mutia.
“O...iya, kemarin kan kamu ikut lomba Olimpiade Komputer. Gimana menang nggak?
Kamu tu gimana sih... aku tanya malah kamu tanya balik...! Kemarin aku nggak menang, soalnya susah banget!”
“O…” jawab Ifa.
“Kemarin PR-nya apa? Malah jawab o…” tanya Mutia sambil sewot.
Ifa nyengir “Sori..sori... Kemarin kamis itu ngumpulin tugasnya bu killer terus besok minggu depan ulangan IPS dari bab 1 sampai bab 2, bahasa Inggris disuruh ngumpulin tugas bab pertama minggu depan, matematika cuma nyatet ama latihan soal, Pkn nggak ada PR,” jawab Latifah sambil mengingat pelajaran Kamis lalu.
“Aku baru inget, kamu belum ngumpulin tugasnya Bu killer kan? Kemarin katanya kamu mau nitipin tugasnya ke aku? tanya Ifa.
“Iya.. kemarin aku itu dah ngerjakan, tapi susah banget… Terus aku juga harus latihan komputer, masak iya sih mau lomba nggak latihan! Nanti deh aku ngomong ama Bu Anti. Makasih ya infonya.”
“Sama-sama, Ti. Eh ayo masuk udah bel tuh! ajak Ifa.
* * *   
Murid-murid mulai berdatangan. Mereka sudah mulai berkumpul di lapangan. Hari ini akan diadakan upacara bendera dalam rangka Hari Kemerdekaan RI, meski dalam kondisi berpuasa.
“Nanti rapat rohis ya setelah upacara, kumpulnya di depan mushala,” ajak Mutia.
“Insya Allah, tapi  nggak lama kan? Mau ngapain sih?tanya Sinta.
“Nggak lama kok, cuma mau bentuk pengurus rohis,” jawab Mutia. “Nanti tolong beritahu temen satu kelasmu yang ikut rohis ya! Aku juga nanti bilang sama temen satu kelasku kok! Dah dulu ya, aku mau kumpul sama teman satu kelasku dulu.”
Mutia menuju kerumunan teman-teman satu kelasnya. Mereka tampak sibuk mengerjakan sesuatu.
Mutia, kamu dah ngerjakan PR Bahasa Inggrisnya Bu Ima belum?” tanya Dina.
Udah kok, tapi belum selesai…!” jawab Mutia. Mutia mendekati Ifa. “Ifa, kamu dah selesai belum PR-nya?”
“Aku dah selesai, tapi task terakhir nggak dong. Jadi nggak ku kerjain. Kamu dah selesai belum?” Ifa tanya balik.
“Belum selesai, kemarin aku ngejar target ngajiku dulu, baru ngerjain PR. Nanti mau kuselesaikan pulang sekolah. Nanti ikut rapat rohis, ya, pulang sekolah di depan mushala.”
“Iya, nanti aku bisa. Kamu tu kok sekarang tambah rajin, ya! Tugas telat mulu! Jangan kebanyakan kegiatan lho… nanti prestasimu turun,” jawab Ifa dengan sedikit mengejek.
Mutia terdiam, ia berpikir sambil merenung. “Bener juga yang dikatakan Ifa, tugasku akhir-akhir ini terlambat terus. Tadi pagi aja aku dimarahin bapakku. Gara-gara aku tidur habis sholat subuh di masjid, aku jadi kesingan bangun. Terus bapakku berangkat duluan, aku ditinggal. Padahal biasanya aku diantar bapakku. Untung ada kakakku yang mau nganterin aku. Untung juga aku nggak terlambat,” Mutia bicara sendiri.
“Apa yang harus kulakukan? Aku nggak mau prestasiku turun, aku juga nggak mau ninggalin organisasi-organisasi yang aku jalani. Apalagi jabatanku di organisasi cukup penting. Di rohis aku jadi ketua, di pramuka aku jadi sekretaris, di kelas aku juga jadi sekretaris. Pusing…pusing…pusing…!” gumam Mutia.
Kring…kring… bel berbunyi. Tandanya upacara segera dimulai. Semua murid berhamburan menyesuaikan diri pada barisan masing-masing.
* * *
“Sekian rapat rohis hari ini, dimohon kerjasamanya untuk kegiatan selanjutnya. Kita rapat lagi hari Kamis, tanggal 19 Agustus, untuk membahas proker selanjutnya. Kurang lebihnya mohon maaf. Kita tutup acara ini dengan membaca hamdallah bersama-sama,” tutup Mutia. “Alhamdulillahirabbil‘alamin. Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Wa‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab semuanya serentak.
Mereka saling bersalam-salaman sebelum pulang. Satu per satu meninggalkan mushala. Hanya tinggal Ara di sana.
Mut, kamu pulang bareng aku aja yuk!” ajak Ara.
“Ayo aja, tapi aku mau menyelesaikan PR Bahasa Inggrisku dulu.”
“Ya nggak papa, aku juga kok. Ajari sekalian ya..!”
“Iya deh!” Jawab Mutia.
Mutia dan Ara mengerjakan PR bersama-sama hingga selesai, lalu tugas itu segera dikumpulkan di meja Bu Ima di kantor Guru. Sesampainya di depan ruang guru, ternyata sudah tutup.
Wah, udah tutup, gimana dong Ra?” tanya Mutia
Iya, gimana dong…! Eh, liat.. belum digembok kok!” jawab Ara sambil memperhatikan pintu ruang guru.
“Untung aja, Alhamdulillah. Ayo kita kumpulkan!” sambil meletakkan di meja Bu Ima.
“Yuk, pulang sekarang!” ajak Ara.
Let’s go!” jawab Mutia.
* * *
Temen-temen, nanti jangan pulang dulu, ya! Kita mau rapat buat buber kelas kita,” Dina mengumumkan di depan kelas sepulang sekolah.
“Kok kamu nggak bilang sama aku kalau hari ini ada rapat kelas?” tanya Mutia. “Hari ini kan ada rapat rohis juga!”
Kamu juga nggak bilang kalau hari ini ada rapat rohis, seharusnya kamu koordinasi dong sama aku!” jawab Dina.
“Ya deh, maaf. Aku lupa ngasih tau kalau ada rapat rohis hari ini. Gini aja, aku rapat kelas dulu nanti baru rapat rohis.”
“Ya.. itu terserah kamu!” jawab Dina judes.
Temen-temen, gimana kalau kita buber di rumah Yuli? Kalau disana kita free. Yuli mau ngasih buber gratis! Mau?” Dina memulai rapat kelas.
“Rumah Yuli kan jauh banget, transportasinya kan sama aja!” balas Ara. “Gimana kalau bubernya di Dapur Sambal aja? Kan deket dari sekolah, harganya juga nggak terlalu mahal!”
“Siapa yang setuju?” tanya Dina.
“Di sana aja, Din! Biar semuanya bisa ikut,” jawab Ifa.
“Oke, terus tanggal berapa ama jam berapa?” lanjut Dina
“Gimana kalau jam setengah lima. Tanggal 30 Agustus aja, hari Senin. Kalau hari Selasa, hari Rabunya kan praktek, kasian yang timbang bahan. Kalau hari Rabu, Kamisnya ulangan Bu Killer. Setuju?” usul Ara.
“Usul bagus tuh! Yang lain setuju nggak?”
“Setuju..!” jawab yang lain serentak.
“Oke deh, jadi bubernya di Dapur Sambal, hari Senin, tanggal 30 Agustus 2010 jam setengah lima sore. Rapatnya sampai di sini dulu, makasih ya dah mau dateng,” Dina menutup rapat.
“Mut, jadi rapat rohis nggak?” tanya Ifa.
“Aduh, maaf banget kayaknya nggak bisa deh, gimana kalau besok! Soalnya Sinta tadi juga dah nunggu di depan mushola, tapi sekarang mungkin dah pulang,” jawab Mutia.
Makanya, lain kali kalau ada rapat rohis itu kasih kabar dulu!” balas Ifa sambil pergi.
* * *
Sesampainya di rumah, Mutia langsung menuju kamarnya. Ia menangis sesegukan.
“Kenapa aku sekarang jadi begini? Sejak aku ikut organisasi, semuanya jadi kacau. Tugas kacau, organisasi kacau.., semuanya nyalahin aku. Enggak Ifa enggak Dina. Padahal mereka teman dekatku,” Mutia berbicara sendiri sambil menangis. “Kalau begini prestasiku….?” Mutia tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia terus menangis hingga akhirnya teretidur.
Setelah bangun tidur, ia segera mandi dan shalat asyar. Lalu ia berdoa setelah shalat.
“Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini. Hamba bingung atas ujian ini! Berikanlah jalan keluar atas masalah hamba, agar semuanya dapat kembali seperti dulu lagi..! Amin….”
“Sekarang aku tau akar permasalahannya,” Mutia teringat dulu pernah membaca buku tentang ‘Manajemen Waktu’. “Masalahku hanya karena aku tidak bisa membagi waktu antara belajar dan menjalankan organisasi.”
Mutia mengambil secarik kertas dan sebuah bolpen. Ia mulai menuliskan agenda untuk besok.
“Besok pulang sekolah pukul 12.35, setelah itu shalat dhuhur baru dilanjutkan rapat rohis. Setelah rapat, aku harus pulang cepat. Masih ada PR yang belum selesai, PR IPA dari LKS, PR Matematika 10 soal. Minggu depan ulangan IPS-nya Bu Anti. Aku harus belajar supaya nilaiku bagus. Sorenya, mengajar TPA sampai buka puasa. Malamnya shalat tarawih dan witir di masjid.” Mutia membuat agenda kegiatan untuk dirinya sendiri.
“Ehm, apalagi yang kurang ya? O..iya.. setelah shalat di masjid, melanjutkan mengaji. Aku harus bisa khatam Al-Qur’an dalam satu bulan. Lalu, menata buku di tas untuk jadwal besok dan gosok gigi. And the last, go to bed!” Mutia selesai membuatnya. Ia berharap agenda yang ia rencanakan tidak meleset.
* * *
Keesokan harinya, ia mulai menjalankan agendanya.
Alhamdulillah… PR IPA sama PR Matematika benar semua. Rapat rohis berjalan dengan lancer,” ucap Mutia. “Mungkin ini jawaban atas permintaanku kemarin. Terima kasih Ya Allah…”
“Mut.. Mutia tunggu….!” panggil Ifa dan Dina.
“Ada apa?”
“Tadi, aku ketemu Bu Anti, katanya kamu disuruh ketemu beliau di kantor guru!” jawab Ifa.
“Aduh… ada masalah apa lagi ini? Temenin aku yuk!” ajak Mutia.
“Yuk, aku juga lagi nggak sibuk. Kamu ikut juga ya Din!”
“Oke deh…!” jawab Dina singkat.
* * *
“Maaf, tadi ibu memanggil saya? Ada apa ya, Bu?” tanya Mutia dengan nada takut.
“Kamu belum mengerjakan Latihan soal ya? Mengapa tidak dikerjakan?” tanya Bu Anti.
“Maaf bu, kemarin kamis saya ikut lomba Olimpiade Komputer, sehingga tidak mengumpulkan latihannya.”
“Kan bisa dititipkan ke temannya!”
“Kemarin saya sudah mengerjakan tetapi belum selesai. Saya terus terang kemarin fokus untuk berlatih karena mau ikut lomba tersebut. Maaf ya, bu…!”
“Begini saja, ibu beri waktu kamu sampai Kamis depan. Kerjakan semua soal latihannya beserta soal perbaikannya, karena nilaimu belum masuk,” jawab Bu Anti sambil tersenyum.
“Terima kasih, Bu! Besok kamis akan saya kumpulkan. Mari, Bu!” balas Mutia. Ia segera keluar dari kantor guru.
Alhamdulillah, Fa, Din! Ternyata Bu Anti nggak se-killer yang kuduga. Aku dikasih waktu buat ngerjakan soal latihan sampai besok Kamis,” seru Mutia.
Alhamdulillah…” balas Ifa dan Dina berbarengan.
“Kalian udah nggak marah ama aku?” tanya Mutia.
“Siapa yang marah sama kamu lagi, Mut ... Mut!” balas Dina.
“Orang kemarin aja, kita cuma ngasih saran buat kamu!” sahut Ifa.
“Berarti, aku-nya aja yang agak sensi. Maaf ya!”
“Iya, iya…,  kita juga minta maaf kalau ada salah!” jawab Dina.
Please.. forget it! Pulang yuk, nanti keburu sore!” ajak Mutia. “Organisasi oke…!”
“Akademis oke…!” balas Dina dan Ifa kompak.
* * *
Mar’atush Sholihah
XI Patiseri

Cepen Siswa SMK N 6 Yogyakarta III (KKN 2010)



 
Cerpen Ketiga
SELAMAT TINGGAL UNTUK IBU

Seperti biasanya, pagi ini ibu mengajakku berdoa pada Tuhan karena masih memberikanku hidup sampai saat ini. Setelah selesai berdoa kami kembali melanjutkan pekerjaan kami, mencari barang yang sudah tidak terpakai lagi, di pinggir-pinggir jalan, toko, dan, di semua tempat yang kami lewati. Dan barang itu kami jual untuk hidup hari ini.
Ketika sang surya mulai berkuasa, pelan-pelan jemari ibuku mulai mengusap lembut pipiku. Tapi di suatu pagi ibuku tak lagi membangunkanku dengan sentuhannya. Ibuku tak lagi tersenyum, tangannya masih memeluk tubuh mungilku. Aku tak tahu mengapa ibu terus memelukku. Aku hanya tahu, wajah ibuku begitu manis untuk wajah seorang ibu. Lalu aku tertidur dalam pelukan hangat ibuku, dengan kehangatan yang menyelimutiku dan dengan kedamaian.
Pernah suatu kali aku melihat ibu tertidur dengan air mata yang berlinang di pipinya. Aku masih terpaku menatap nuansa malam di tepi jalan. Ketika aroma malam yang membawa memoriku terbang bersama masa laluku. Masa lalu bersama ibuku. Masa lalu yang begitu pahit bagiku. Masa lalu yang memaksa jiwaku untuk merindukan ibuku. Ibuku selalu bercerita tentang indahnya malam dan damainya malam. Selama ini ibu bercerita, aku hanya memandang langit berintik itu.
Ibu tak lagi mengajakku untuk berdoa. Yang kulihat wajah ibu yang mulai membiru dengan bekas air mata yang mengalir. Yang kurasakan dari pelukan yang tak kunjung lepas. Kubangunkan ibuku, tapi ibu hanya diam tak kunjung membuka matanya. Entah berapa kali aku mencoba membangunkannya. Entah sudah berapa kali aku terisak sambil mengusap ibuku yang sudah terbujur kaku. Kemudian aku tersadar bahwa aku telah kehilangan sebuah senyum, sebuah belaian, sebuah kehangatan dan sebuah malam.
Angin berhembus lagi, entah berapa kali. Seiring dengan hawa dingin yang masuk ke dalam tubuhku, sebutir air mengalir pelan dari mataku. Mataku seperti tersayat-sayat. Kenapa ibu harus pergi memelukku? Dan aku sadar bahwa aku lupa ucapkan selamat tinggal pada ibuku. Hatiku berontak meneriakkan sebuah keadilan. Tapi, aku tak bisa berteriak. Aku tak bisa memaki-maki orang yang berlalu di depanku. Aku hanya diam terpaku menatap batu. Aku hanya bisa membiarkan kegalauan ini terus terbungkus malam. Membiarkan penyesalan terus menghampiri pikiranku. Selang beberapa lama pikiranku bosan, aku membiarkan diriku diseret oleh kakiku. Sambil menginjak kerikil-kerikil yang menghalangi langkahku. Kuucapkan selamat tinggal pada malam, pada jalan dan pada ibuku.
“Selamat jalan ibu, dan aku berkata dalam duka.”





  Choirunnisa
   XI Jasa Boga 3

Cepen Siswa SMK N 6 Yogyakarta II (KKN 2010)



 
Cerpen Kedua
DUKA DI BULAN MEI

Aku masih termenung duduk di dekat jendela kamar, pandanganku kosong. Tanganku masih memeluk erat boneka beruang yang berwarna putih. Air mataku tidak berhenti menetes dari mataku. Kejadian itu masih menyisakan perih di hatiku, selalu terngiang-ngiang dalam benakku. Aku masih shok dengan kejadian tragis itu. Sejak saat itu aku selalu mengurung diri di dalam kamarku. Shika, sahabatku, selalu mencoba membuatku dapat tersenyum kembali seperti dulu sebelum kejadian itu menimpaku, tapi aku tidak bisa.
Saat itu tanggal 1 Mei 2009, tepat saat  ulang tahunku yang ke-17 tahun. Aku merayakan ulang tahunku itu dengan sangat meriah di sebuah kafe milik saudaraku. Di ulang tahunku itu aku mendapat hadiah yang sangat indah. Setelah acara tiup lilin dan potong kue selesai, tiba-tiba Vicky menghampiriku dan membawaku ke luar ruangan menuju sebuah taman kecil di samping kafe.
“Ka, ini adalah hari yang paling indah untukmu, dan di hari ini aku ingin sekali bisa menikmati hari yang indah ini denganmu,” kata Vicky. Vicky memang sering memanggilku “Ka”, mungkin itu panggilan sayang darinya untukku.
“Apa maksudmu, Vick?” tanyaku tak mengerti.
“Aku ingin…em…em….”
“Ingin apa?”
“Em… apa kamu mau jadi…em…”
“Jadi apa? Tolong katakan dengan jelas supaya aku mengerti apa yang kamu maksud.”
“Apa kamu mau jadi kekasihku, Ka?” aku sangat kaget. Vicky mengutarakan perasaannya padaku.rasanya aku ingin pingsan karena aku sangat terkejut sekaligus gembira sekali. Pernyataan Vicky tadi hanya ku jawab dengan anggukan yang mantap. Vicky memang pemuda yang aku idam-idamkan dari dulu. Mengetahui jawabanku tadi, Vicky spontan meloncat dan berteriak “Yes! Hore….!”
Aku hanya tersenyum dan tersipu malu melihat tingkah Vicky. Setelah itu, kami berdua kembali ke dalam dan kembali menikmati pesta dengan perasaan yang gembira.
Suasana pesta semakin meriah. “Ka, aku ke kamar mandi dulu ya,kata Vicky. Sudah hampir lima menit Vicky belum kembali dari toilel dan tiba-tiba,
“Kebakaran…kebakaran…!”
Serentak semua orang berlari meninggalkan ruangan itu. Aku bingung, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Vicky masih di dalam dan aku tidak bisa menolongnya. Petugas pemadam kebakaran sudah berhasil memadamkan api. Untunglah api itu tidak membakar habis kafe. Mereka juga menemukan Vicky. Vicky langsung dibawa ke rumah sakit. Tapi sayang saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, Vicky sudah tidak tertolong lagi. Sebelum Vicky menghembuskan nafas terakhirnya dia sempat berkata padaku, “Ka, aku sayang banget sama kamu, jangan pernah lupakan aku ya…!”
Kebahagiaan yang sempat aku rasakan sekarang berubah menjadi sebuah kesedihan yang mendalam. Aku tidak menyangka Vicky akan pergi secepat itu. Pulang dari rumah sakit aku langsung menuju kamarku, di sana aku menemukan sebuah boneka beruang putih yang sangat cantik, ku baca pesan yang tergantung di leher boneka itu.

To : Karina
Ka, ku harap kamu senang dengan hadiah dariku ini. Semoga hadiah ini bisa membuatmu selalu dekat denganku. Cinta yang ku berikan padamu tidak akan pernah habis sampai ku mati. Kau selalu di hatiku, jaga hadiah dariku ini.
                                                                        From : Orang yang selalu sayang padamu
                                                                                     “ VICKY “

Aku senang karena Vicky sangat menyayangiku, tapi aku sedih kenapa Vicky baru sekarang menyatakan perasaannya? Aku tidak bisa menahan air mataku yang terus mengalir dari mataku.
“Sudahlah, Rin. Vicky memang sahabat yang baik tapi pasti dia tidak mau kalau kita terus bersedih, kita harus tetap semangat, Rin!” kata Ishika mencoba menghiburku. “ Andai saja kamu tahu apa yang terjadi semalam sebelum kejadian itu pasti kamu akan tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang baru setengah jam menjadi kekasihmu,kataku dalam hati.
Sampai detik ini aku belum bisa melupakan Vicky dan menggantikan posisi Vicky di hatiku. Aku masih trauma dengan kejadian yang sangat memilukan di bulan Mei itu.






                                              Ayunurita Safitri
XI Busana Butik 2

Cerpen Siswa SMK N 6 Yogyakarta I (KKN 2010)


 
Cerpen Pertama
Kado Terakhir Ka’ Rendy

Hari ini matahari seakan memanggang kulit… Membuat kerongkongan terasa kering. Sementara di kelas Dhita mulai gelisah… Diambilnya sebuah buku dan dikipas-kipaskanya….
”Ukh, panas banget ceh?! kok ga kelar-kelar ne mapel…”
“He’em mana laper lagi!tambah Siska.
Tiba-tiba hp Ditha bergetar, diterimanya sebuah short message dari kaRendi.
Chayank, ka jemput yaka tunggu di gerbang….
Rasa panas terasa hilang sekejap, dibalasnya pesan itu dengan singkat.
Ya …
Waktu 10 menit terasa  begitu lambat, padahal Dhita udah gak sabar pengen ketemu ka’Rendi. (Dhita adalah seorang siswi SMAN 1 Yogyakarta. Sedangkan ka’ Rendi adalah seorang mahasiswa jurusan Teknik Informatika di sebuah universitas ternama di Yogyakarta). Wajar, bila Dhita tak sabar pengen bertemu ka’ Rendi. Mereka tidak ketemu 2 minggu karena ka’ Rendi ujian.
Akhirnya bel pun berbunyi, para siswa berhamburan keluar kelas. Dhita membereskan bukunya, lalu diraihnya tas berwarna biru.
“Dhit,q pulang duluan ya! Ka’ Dion dah jemput nech.”
” Ea, ati-ati di jalan. Salam aja buat ka’ Dion, kata Dhita.
Dhita bergegas menuju gerbang sekolah, matanya langsung tertuju pada sosok pria berkaos hitam yang tengah duduk di sebuah motor, dia menyambut kedatangan Dhita dengan senyum manisnya. Lalu Dhita meraih tangan Rendi dan mencium tangannya.
“Kok mukanya kusut banget …..?!”
“He’em panas banget ka’! Mana tadi mapel terakhir matematika lagi! Ukh, tambah puanazzz!!!”
Rendi tersenyum, melihat gadis pujaannya cemberut sambil menggerutu. Lalu dibelainya rambut Dhita yang hitam panjang itu.
“Ukh… kacian Cyankku, ea udah nanti kita mampir di Strawberry Cafe.”
Lalu mereka langsung tancap gas. Sesampainya di sana Rendi langsung memesan ice cream dan makan siang.
“Ka Rendi, Dhita ke belakang dulu yach. Mau shalat dhuhur dulu. Kaka udah shalat?
“Udah kok tadi. Ya udah shalat dulu, nanti kaka tunggu di meja no. 15 ya!?
Setelah shalat, mereka langsung makan siang.
Tepat pukul 16.00 Rendi mengantar Dhita pulang ke rumah. Mereka berhenti di sebuah rumah bercat biru.
“Kaka anter nyampe sini aja ya. Kaka dah ditunggu Mama di rumah. Sampein aja salam kaka buat papa dan mama.
“Ea, nanti tak sampein.
Rendi pamit, Dhita mencium tangan Rendi. Lalu ia bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, Dhita langsung menceritakan semuanya kepada papa dan mama. Memang kedua orang tua Dhita telah mengetahui hubungan putrinya dengan Rendi. Tapi mereka tak menghalanginya. Rendi seorang pria yg baik, bertanggung jawab dan sopan. Setiap kali mengajak Dhita pergi, ia selalu meminta izin kepada orang tua Dhita.
***
Tiga minggu lagi Dhita UNAS, Rendi terus memberi support untuk pujaan hatinya itu. Sesuai kesepakatan bersama, mereka sepakat untuk tidak bertemu dulu sampai Dhita menyelesaikan UNAS-nya. Tiap hari mereka hanya sms-an, sesekali Rendi menelpon Dhita untuk menanyakan kabarnya.
Di suatu pagi yang cerah, Dhita mendapatkan sebuah short message dari Ka’Rendi.
Pagi cayankq…Good LUCK ya!
Pokoknya Dhita harus lulus, jangan kecewakan Kaka …
Jam menunjukan pukul 06.00. Dhita langsung sarapan dan bergegas menuju ke sekolah, Dhita mulai menjalani hari baru tanpa Ka’Rendi.
“Aku harus lulus. Aku gak mau kecewain papa, mama dan ka’ Rendi …”
***
Dua minggu akhirnya terlewati.
Empat hari ke depan Dhita akan menghadapi hari-hari yang akan menentukan hasil belajarnya selama tiga tahun ini. Sementara itu, Rendi terbaring lemah di  Happy Land Hospital.
Kepala Rendi terasa mau pecah. Sesekali ia berteriak histeris karena tak mampu menahan sakit. Setelah dua hari dirawat, dokter memvonis Rendi menderita tumor ganas di kepalanya. Rendi sangat shok. Begitu pula kedua Orang tuanya. Namun, mereka tak mau larut dalam kesedihan. Mereka bangkit untuk memberikan support untuk putra tercintanya.
“Cayank, kamu gak usah khawatir. Papa dan mama akan usahain supaya kamu bisa sembuh. Berapapun biayanya!
“Pa, Ma…janji ya?! Gak akan kasih tau siapa pun tentang keadaan Rendi sekarang .terutama Dhita! Rendi gak mau dia sedih …”
“Ea, cayank … Papa sama Mama janji. Gak akan kasih tau siapapun Tapi kamu juga janji harus mau operasi.”
Hp Rendi bergetar…terlihat sebuah short message dari Dhita.
Kak, UNAS tinggal 2 hari lagi. Dhita gak sabar pengen ketemu Kaka.
Apa Kaka baik2 aja? kenapa firasat Dhita gak enak banget ya Kak?
Rendi membalasnya.
Cayank, kaka juga pengen banget ketemu Dhita…
Dhita gak usah khawatir, Kaka baik2 aja kok’
Kaka Cayank Dhita …
Hati Dhita terasa lega setelah mendapatkan kabar dari Ka’Rendi.              Sementara Rendi tak kuasa menahan air matanya. Ia teringat seseorang yang sangat dirindukannya. Rendi berusaha meminta ijin kepada dokter untuk menunda operasinya dan menjalani perawatan intensif di rumah. Dikirimnya dua orang perawat khusus untuk merawat Rendi di rumah.
***
UNAS pun telah usai. Dhita tersenyum bahagia. Selain telah melewati hari-hari menegangkan itu, ia juga gak sabar ingin bertemu Ka”Rendi. Lalu ditulisnya sebuah short message buat Ka’Rendi.
Alhamdulillah, UNASnya udah selesai Kak, kapan Dhita bisa ketemu Kaka?
Rendi membalasnya.
Syukurlah, semoga nilainya memuaskan… Ma’af ya Dhit, Kaka baru ada tugas                     di kampus, mungkin baru bisa ketemu hari sabtu nanti…sabar ya, Cayank…
Keadaan yang sebenarnya, Rendi hanya ingin menyiapkan fisik yang sehat agar saat bertemu Dhita, ia tak curiga  kalau dirinya tengah mengidap penyakit mematikan.
***
Hari sabtu tiba.
“Ma, Rendi pergi dulu ya?! Hari ini Rendi pengen menghabiskan waktu bersama Dhita.
Mama Rendi tak bisa menolak keinginan putranya, mungkin untuk saat ini hanya Dhita yang mampu membuat Rendi tersenyum. Rendi langsung menuju ke taman, Dhita sudah menunggunya di sana.
Sesampainya di sana Rendi langsung memeluk Dhita dengan erat, bahkan tanpa disadari ia meneteskan air mata.
“Ikchh … Kaka ko’ kurusan ceh sekarang? Apa Kaka sakit …?”
Gak ko’ Cayank… Cuma belakangan ini Kaka banyak banget tugas !? Jadi sering lembur. Mungkin kurang istirahat aja …”
“Oh…gitu? Ea udah, ayo berangkat! nanti keburu panaz …”
Mereka langsung menuju ke pantai. Seharian mereka menghabiskan waktu berdua di sana.
***
Sebulan akhirnya terlewati. Pengumuman UNAS tinggal menghitung hari. Sementara keadaan Rendi semakin parah. Tumornya memasuki stadium 4. Tetapi sampai sekarang Dhita belum tahu keadaan Rendi yang sesungguhnya.
“Cayank, kamu harus operasi… !!
“Gak, Ma …jangan sekarang! Rendi mau operasi setelah Rendi tahu hasil UNAS Dhita … Jadi, kalaupun operasinya gagal, setidaknya Rendi bisa ada di sampingnya. Di saat hari bahagianya….”
***
Hari itu tiba.
Hari ini bertepatan dengan ulang tahun Dhita ke-18.
Papa dan mama mengantar Dhita ke sekolah untuk melihat pengumuman UNAS. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya terdengar nama Dhita Aprilia dinyatakan LULUS, dengan predikat Juara 1.
“Papa dan mama bangga sama kamu, cayank. Selamat ya Dhit!?
Tiba-tiba terdengar suara serentak ….
Happy birthday Dhita …”
Siska dan Dion membawa sebuah kue tart  berlapis cokelat kesukaan Dhita. Lalu Siska memeluk Dhita. “ Kamu emang is the best. Selamat ya and Happy Birthday, Sahabatku ….”
“Makaceh,ya, Sis!”
“Heem, btw Ka’Rendi mana?”
“Ea, itu yang ku herankan! Padahal tadi malem dia janji dateng … Apa mungkin dia lupa dengan hari ini ?! Nomernya gak aktif lagi ….”
“Udahlah, kita tunggu aja! Mungkin jalannya macet ….”
Sepuluh menit kemudian.
“Cayank …” terdengar suara yang udah gak asing lagi.
“Selamat ya, Cayank … Kaka bangga banget sama Dhita!
Rendi memeluk Dhita lalu dikecupnya kening Dhita …
Kemudian Rendi mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut pita berwarna pink dari tasnya.
“ Happy Birthday Cayank … Moga panjang umur, sehat selalu and selalu jadi kebanggaan papa mama …”
Lalu dibukanya kotak itu. Terlihat sebuah liontin yang sangat indah. Dalam liontin itu terukir nama Rendi & Dhita. Lalu Rendi memakaikannya.
“Kalo suatu hari nanti Kaka harus pergi jauh … Berjanjilah Dhita gak akan sedih ataupun menangis. Satu hal yang perlu Dhita tau, Kaka sangat mencintai Dhita. Cinta dan kasih sayang Kaka gak akan pernah hilang… Jagalah liontin ini dan jangan pernah melepasnya…!!”
“Emangnya Kaka tuch mau ke mana? Nyampe serius banget gitu!!?”
Rendi memeluk Dhita dengan erat. Tiba-tiba Rendi berteriak histeris sambil memegangi kepalanya.
Saaakkiiiitttt ….!!!!
Dhita sangat panik. Rendi terjatuh dalam pangkuan Dhita.
Rendi telah pergi untuk selamanya…
Dhita sangat terpukul. Ia tak sadarkan diri dan ketika ia bangun, ia baru sadar kalo Ka’Rendi telah benar-benar pergi meninggalkannya Dan tak akan pernah kembali ...
Kenapa Kaka tinggalin Dhita ???...”
***





Imas Intan Nurjanah
XI Busana Butik 1